Powered By Blogger

Kamis, 03 Oktober 2013

PRAKTISI DAN AKADEMISI

Kali ini saya membahas mengenai seseorang yang sangat hebat dalam bidang tertentu. Semoga bisa menjadi inspirasi untuk pembaca semua.

Suatu ketika terjadi obrolan antara saya dan teman di sekitar masjid. Saat itu saya bertanya kepada dia, apakah tidak ada niat untuk mengajar? jawab dia : ah saya mau berkarir dulu sampai mendapatkan pengalaman yang cukup (memuaskan emosi) untuk bisa mentransfer ilmu dan pengalaman yang di dapat dari tempatnya di hotel. Saya balik bertanya, pengalaman yang seperti apa yang dicari? Dia hanya menjawab pengalaman yang benar-benar cukup. Saya pun tersenyum, maksudnya dia belum bisa menjawab apa yang menjadi pertanyaan saya.

Kira-kira sepenggal cerita di atas sedikit menggambarkan antara seorang praktisi dan akademisi. Ya saya pun berusaha mendefinisikan selama sepanjang jalan pulang ke rumah setelah terjadi obrolan tersebut. Karena saya mempunyai beberapa pendapat atas pertanyaan saya tersebut. Mengapa mayoritas para praktisi belum berani menjadi akademisi secara langsung. 

Mereka merasa pengalaman yang telah didapat dari menjadi seorang praktisi adalah sebuah modal yang paling menjamin untuk bisa mentransfer ilmunya kepada para peserta didik. Padahal poin penting bagi seorang pendidik terbagi menjadi empat : kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan terakhir kompetensi profesional.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kompetensi profesional atau kemampuan pada bidangnya juga masuk ke dalam poin bagi seorang akademisi. Tapi itu saja tidak cukup untuk menjadi seorang akademisi. Mereka harus mempelajari pedagogik, kepribadian, sosial. Semua itu tidak bisa didapatkan dalam waktu singkat. 

Kita ambil contoh seorang praktisi yang sudah berusia ya minimal 44 tahun, ketika mereka sudah tidak diperlukan lagi oleh perusahaan yang memanfaatkan kemampuan profesionalnya karena usia yang telah dibatasi. Mereka pun akan berpindah menjadi seorang akademisi. Seperti yang saya bilang, kalau tidak dimulai dari awal minimal 10 tahun mereka atau masyarakat mampu menguasai dan mengadopsi kemampuan pedagogik, kepribadian, sosial.

Jadi buat kalian yang memang sudah punya niat menjadi akademisi, jangan tunggu untuk mendapatkan pengalaman dulu di industri, 
Tapi mulailah dari sekarang!

Selasa, 10 September 2013

FORMASI CPNS KABUPATEN BOGOR 2013

Bismillahirrohmannirrohim, Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh,
Hari ini saya coba untuk ijin dari mengajar saya karena ada hal yang harus diselesaikan. Kemarin tepatnya saya meminta ijin untuk tidak mengajar pada hari selasanya kepada ibu kakomli akomodasi perhotelan. Hahaha seperti biasa alasannya mau pacaran dulu bu. Padahal alasan sebenarnya bukan itu. Tapi ibu kakomli selalu menghargai kok kemana pun dan kapan pun saya ijin pasti dilakukan karena memang ada keperluan yang mendesak.

Hari senin seharusnya saya sudah melaksanakan kuliah perdana di Universitas Ganesha Singaraja - Bali. Di sana tepatnya hanya 10 orang guru perhotelan yang lolos seleksi se-indonesia dari 1000 orang. Iyah nama program diktinya yaitu Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (PPGT) SMK Kolaboratif. Semua peserta yang ikut tes beragam dari berbagai jurusan produktif SMK. Semua yang lolos hanya 500 orang.

Iyah karena harus mengikuti kata orang tua saya agar tidak berangkat, dengan alasan saya harus menyelesaikan kuliah S2 saya terlebih dahulu. Padahal kalau saya melihat kembali ke belakang. Betapa sudah berkorban waktu, pikiran, uang, dll untuk mengikuti berbagai macam tesnya.

Diawali dari informasi ibu wety sebagai wakil kepsek bidang kurikulum yang sedang mengikuti pelatihan di UPI Bandung. Isi sms (Pak adhan ada info PPG untuk guru honor dari Prof Tjutju, silahkan tanya pak tri untuk lebih lanjut).

Esok pagi saya langsung mencari pak tri, ternyata pak tri sedang ijin tidak masuk karena tidak enak badan dikarenakan habis lembur mengerjakan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Sampailah saya bertemu ibu nurdini sebagai wakil kepsek bidang PSDM (Pengembangan Sumberdaya Manusia) menanyakan apakah sudah melihat isi informasinya di website? Iyah bu langsung saya segera cek. Setelah lihat informasinya, Untuk sekolah tempat saya mengabdi ini hanya 3 orang guru yang memenuhi kriteria persyaratan. Harus di bawah usia 30 tahun dan guru honor produktif. Saya sebagai guru perhotelan, ibu dini sebagai guru kecantikan kulit, ibu eme sebagai guru kecantikan rambut.

Kami bertiga segera mencetak informasi tersebut dan memberikan kepada pak jana sebagai kepala sekolah serta sekalian meminta saran apakah kita harus ikut dan segera daftar online. Beliau menjawab iyah dicoba segera yah. Setelah kami mendaftar kami menunggu hasil lolos sekitar 2 minggu. Alhamdulillah hanya saya dan bu dini KCK yang lolos berkas. Kami lanjut untuk tes kedua yaitu tes TPA dan Bahasa Inggris seminggu setelah pengumuman di UPI Bandung.

Minggu kedua setelah tes tersebut ada hasilnya dan alhamdulillah kami lolos lagi ke tes selanjutnya di UPI Bandung. Selang 2 minggu pada tes ketiga yaitu wawancara, kami dicoba oleh Allah SWT dengan mendapatkan travel bandung yang tidak profesional, Kamis sengaja pesan travel pukul 3.30 dari bogor agar sampai bandung sebelum pukul 7.30. Astagfirulloh ternyata pas di konfirmasi nama kami tidak ada dalam pesanan. Alhasil kita mencari travel lagi tapi apa daya tak ada travel yang bisa dipesan last minute (dadakan). Akhirnya dengan pasrah kita naik bus yang ke bandung berangkat pukul 5.00.

Kalau dilihat estimasi pada hari itu senin pasti macet jalanan dan diperkirakan sampai pukul 8.30 di bandung. Belum lagi kita lanjut naik damri menuju ledeng. Tapi dengan ambil keputusan cepat, kita turun di Dago dan melanjutkan dengan taksi. Alhamdulillah kita sampai tepat pukul 8.00 di UPI Bandung. Pada saat tes kami mendapat urutan terakhir baru selesai pukul 15.30.

Tiga minggu setelah tes ketiga baru ada hasilnya, alhamdulillah kita lolos lagi dan segera harus mendaftar ulang pada 6-8 September 2013. Sedangkan perkuliahan pada 9 September. Padahal hasil itu keluar pada tanggal 28 Oktober. Cuma seminggu waktu yang diberikan dari jeda pengumuman dan daftar ulang. Akhirnya kami bertemu dengan pak jana dan bu nurdini untuk menyampaikan kabar lolosnya kami. Pak jana kaget luar biasa karena lihat penempatan lokasi kami, saya di bali dan bu dini di semarang. Akhirnya pak jana memberikan waktu untuk kami agar berdiskusi dengan keluarga masing-masing.

Saya sore harinya memberikan hasil kepada ayah dan ibu, tidak ada komentar. Ya berarti insya ALLAH diijinkan. Malam itu pula saya pesan LION AIR keberangkatan 6 Sept 2013 Pukul 12.30 ke Denpasar langsung transfer melalui ATM sejumlah 800rb. Ketika pagi hari, orang tua saya langsung bicara bahwa saya tidak perlu berangkat ke Bali. Wow...... kaget luar biasa saya.

  1. Hal pertama yang membuat saya kaget adalah kenapa tidak dari semalem memberitahunya kalau tidak mengijinkan. 
  2. Hal kedua, kami semua sebagai para guru tahu betul bahwa program ini mutlak wajib diikuti oleh semua guru yang belum tersertifikasi. Karena setelah selesai program ini akan mendapat Lisensi Pendidik atau Sertifikat Profesi. Sesuatu yang legal dan sudah diatur undang-undang dan peraturan pemerintah. Tapi orang tua saya dengan santai menjawab "tidak perlu berangkat"
  3. Hal ketiga, PPG (Pendidikan Profesi Guru) ini adalah prioritas bagi guru yang belum PNS. Padahal orang tua saya ingin sekali saya menjadi seorang PNS. Saya ikuti semua kemauan orang tua saya untuk menjadi PNS tapi dengan cara saya ini.
  4. Hal keempat, kenapa tidak dari awal sebelum saya tes pertama seharusnya orang tua saya sudah melarang agar tidak usah ikut program ini. Padahal sudah saya jelaskan sebelum saya ikut tes mengenai seluruh informasi mengenai konsekuensinya.
  5. Hal kelima, Sudah lah..... ALLAH SWT punya rencana lain. Mungkin tidak menjadi guru, mungkin tidak jadi PNS. Apapun saya terima insya ALLAH demi menjaga hati dan ego orang tua. Dan yang lebih penting lagi untuk menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Ridho ALLAH adalah Ridho Orangtua.
Jauh sebelum tes kedua PPG, saya manfaatkan libur sekolah untuk mengumpulkan berkas-berkas yang diperlukan. Memang saat itu bertepatan libur awal lebaran.

Pertama saya harus mendapatkan SKCK. Datanglah saya ke polres, eh sampai polres saya disuruh minta surat rekomendasi ke polsek. Sampai dipolsek saya malah diminta surat pengantar kelurahan. Masya ALLAH sampai di kelurahan saya disuruh minta surat pengantar RT dan RW.

Huft... capek dan letih sekali padahal saat itu saya sedang puasa syawal.
Jauh banget lho jarak antara polres ke polsek, jarak antara polsek ke kelurahan. Hoam.... Rasanya ingin berteriak.

Akhirnya saya minta mulai dari RT dan RW, lalu Keluarahan dan bayar 15rb, lalu ke polsek bayar 10rb, lalu ke polres bayar 10rb dan sidik jari 15rb, legalisir SKCK 10rb. (belum dihitung antrinya bos...) karena saat itu bertepatan orang-orang pada buat untuk keperluan CPNS.

Lanjut untuk mendapatkan berkas SKBN (Surat Keterangan Bebas Narkoba) Masih di polres, saya tes urine dulu di LAB Polres 100rb, lalu buat SKBN + Legalisir 25rb.

Lanjut lagi besoknya untuk mendapatkan Surat Keterangan Sehat di Dokter Pemerintah. Saya dari 5.30 sudah standby di RSUD Cibinong untuk menunggu  antrian. Bayangkan pagi banget anteriannya, sedangkan dokternya datang pukul 9.30. Gila......... Inget momen ini masih dalam kondisi puasa syawal nih hahaha

Selesai sudah Saya mengurus SKCK, SKBN, Surat Keterangan Sehat.

Alhamdulillah, andai orang tua saya tahu semua perjuangan ini, sepertinya mereka berpikir dua kali untuk tidak berkata "tidak perlu berangkat".

Kembali lagi ke judul di atas. Formasi CPNS.
Iyah saya ijin hari ini tidak mengajar karena mengurus keperluan CPNS. Kebetulan di Kabupaten Bogor ada formasi lowongan guru perhotelan yang hanya 2 orang. Tapi melihat syaratnya harus ada Sertifikat Pendidik (Sertifikat Profesi) (PPG). Sekali lagi saya tekankan, andai orang tua saya lihat syarat untuk menjadi guru itu harus punya sertikat. Pasti berpikir dua kali, kalau syarat mutlak jadi GURU PNS harus punya Sertifikat Pendidik.

Saya buat lagi tuh SKCK, karena harus eksklusif keperluan harus tertulis CPNS sedangkan punya saya yang satu bulan lalu tertulis untuk PPG. Bikin lagi lagi lah saya. Antri juga bos...........

Kemudian buat Kartu Pencari Kerja (Kartu Kuning) Buatlah saya hari ini dengan antrian yang bejibun. Banyak banget yah yang minat jadi PNS di Kabupaten bogor

Kemudian syarat yang ketiga, Surat Keterangan Sehat Dokter Pemerintah. Datanglah saya ke puskesmas hahaha kapok ke RSUD mah antri dari subuh bos...

Daftar online dulu saya ke sscn.bkn.go.id lalu printout
Daftar online juga saya untuk kartu kuning.

Berkas yang diperlukan,
Surat Lamaran ditulis pakai tangan bos, bukan kaki atau pun ketik komputer.
Fotokopi Ijasah dan Transkip (Legalisir)
Fotokopi SKCK (Legalisir)
Fotokopi Kartu Kuning (Legalisir)
PassFoto berwarna 3x4 dan 4x6 4lembar
Printout BKN

Semua dimasukkan ke dalam map hijau (warna khusus tenaga pendidik)
Masukkan map hijau ke dalam Amplop Coklat Besar
Masukkan juga amplop putih berperangko 4ribu ke dalam Amplop Coklat Besar
Tinggal kirim ke kantor pos. Harus Kantor Pos nih...........

Jujur ini sudah kali kedua saya mencoba CPNS, yang pertama tahun lalu tapi gagal berkas, ya mungkin karena sesuatu, makanya saya gagal.

Semoga kali ini berhasil, mohon doanya yang teman-teman yang baca blog ini. Tapi saya pasrah dan ikhlas saja jika gagal karena memang saya tahu hal itu.

Sekian yah curhat saya hahahaha.



 


Minggu, 08 September 2013

KPLI BOGOR - NGOPREK EDISI SEPTEMBER 2013

Kemarin adalah agenda bulanan ngoprek untuk warga KPLI Bogor.

Tema :Membangun Sentra Telepon Berbasis VoIP dengan Asterisk
Pemateri : Imam Hanafi
Lokasi : Btech
Waktu  : 10.00 - 15.00

Pada saat datang di lokasi, belum ada satupun orang yang tiba, karena sebenarnya acara dimulai pukul 10.00 tetapi Presiden KPLI Bogor sengaja menginformasikan 1 jam lebih awal. Akhirnya menunggu lah kita selama satu jam padahal sudah tergesa-gesa agar tidak telat. Bertemu Teguh yang datang pertama, ngobrol sebentar lalu kita keluar lagi untuk cari tukang bubur (sarapan). Setelah kembali lagi ke Btech sudah tiba Pak Nonong dan rekan, Pak Rizki, Pak Yusuf. Tidak lama kemudian datang Pak Imam Hanafi. Setelah ditelusuri kenapa kita tidak langsung masuk ke ruangan. Eh ternyata kuncinya dibawa Pak Ade. Lupa karena hari ini ada agenda ngoprek. Untung saja Pak Nonong menelpon Pa Ade. Akhirnya Pak Ade memutar balik ke bogor yang tadinya ingin ke depok.

Materi yang dibahas : Menginstall Asterisk, Menambah Codec, Menambah Extension SIP dan IAX, Double PickUp, Auto Transfer, Ring Group, Voice Mail, Trunking VoIP Rakyat, Trunking PSTN.

Peralatan : Laptop, LCD Projector, Router, RJ45, PSTN Gateway, Smartphone

Sedangkan distro yang digunakan oleh pemateri yaitu Ubuntu 13.04

Peserta : Pak Nonong dan rekan, Pak Ade, Pak Indra, Pak Rizki, Pak Yusuf, Pak Teguh dan rekan, Pak Ory, Pak Asep, Adhan.





















Sabtu, 31 Agustus 2013

Asus X201E-KX163D


Hai semua, setelah laptop asus 1225B saya jatuh dan tidak bisa hidup kembali. Saya memutuskan untuk membeli baru lagi asus X201E dengan harga Rp.3.090.000 di Sigma Computindo - Orion Dusit. Bayangkan saja harga yang ditawarkan service center 4 juta untuk mengganti motherboard dan led. Padahal saya beli nya dahulu dengan harga Rp.3.200.000.



















Saya pilih X201E-KX163D berwarna biru karena yang warna putih limited stock. Ya begitu lah tampak laptop yang akan menunjang semua pekerjaan dan kuliah saya. Semoga asus ini akan bertahan lama dan awet sampai tua hehe.

Saya langsung pasang (instalasi) linux mint 15 sebagai sistem operasinya.

Rabu, 15 Mei 2013

Layar Kosong: Fedora15 berkirim berkas via Bluetooth

Layar Kosong: Fedora15 berkirim berkas via Bluetooth: Masih seputar Gnome3 yang berjalan di Fedora15, kali ini tentang fitur Berbagi Berkas yang menggunakan bluetooth. Seperti yang disampaikan...

sumber : http://www.frijal.com/ 

Selasa, 16 April 2013

Usaha Mendapatkan Beasiswa

KOMPAS.com — Beasiswa itu mudah. Wah, kelihatannya enteng sekali mengatakannya. Namun, ini justru menjadi keyakinan Ratna Sari Dewi setelah perjalanan panjang meraih beasiswa.

Kuncinya, meski sudah berkali-kali menerima penolakan dari berbagai penyelenggara beasiswa, Dewi tak kunjung menyerah. Lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini justru makin giat mengejar impiannya untuk sekolah ke luar negeri dengan beasiswa, seperti dituturkannya di Indonesia Mengglobal. Dia pun akhirnya berhasil melanjutkan studi ke Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Beasiswa itu mudah bagi Anda yang memang menaruh komitmen besar untuk melanjutkan studi dengan beasiswa di luar negeri dan di dalam negeri. Pasalnya, menurut Dewi, hanya mereka yang berkomitmen besar yang akan mencurahkan fokus dan energinya untuk menemukan jalan menuju cita-cita yang diimpikan.

Tulisan ini disusunnya pada tahun 2010. Namun, perjalanan panjangnya bisa menjadi wawasan baru bagi Anda yang bercita-cita melanjutkan studi di luar negeri dengan beasiswa. Jangan mudah menyerah!

-----

"Beasiswa Itu Mudah"

"Ih Wi, hebat banget si loe bisa dapat beasiswa!!!"

Ucapan itu keluar dari setidaknya dari beberapa orang ketika mendengar saya mendapat beasiswa Fulbright untuk melanjutkan S2 ke Amerika. Beberapa orang mengucapkan selamat sambil terus bilang kata-kata di atas.

Buat saya, mendapat beasiswa adalah hal yang lumrah saja karena selama Indonesia masih menjadi negara berkembang (baca: negara dunia ketiga), negara-negara maju akan memberikan bantuan beasiswa ini. Jadi, kalau gigih berjuang dan cerdas berusaha, beasiswa hanya tinggal masalah waktu.

Untuk saya begitu. Tidak banyak orang yang tahu bahwa ini adalah percobaaan ketujuh saya untuk mendapat beasiswa. Setelah mendapat enam kali pelajaran berharga, saya akhirnya lulus juga. Dan tidak tanggung-tanggung, saya mendapatkan beasiswa yang selama ini dianggap orang sangat prestisius dan susah. Bangga? Tentu saja. Keluarga dan suami saya masih terus memperlihatkan betapa bangganya mereka. Tapi setelah itu, lama-lama saya anggap beasiswa ini adalah amanah Tuhan yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Karena bukan main-main mendapat beasiswa. Saya punya tanggung jawab moral untuk kembali ke tanah air dan mengamalkan ilmu yang saya dapat di belahan bumi Tuhan yang lain.

Beasiswa pertama yang mengirimkan surat tolak adalah beasiswa Chevening ke Inggris. Saya sudah dipanggil wawancara, tapi saya belum berhasil. Yang kedua adalah ADS ke Australia. Surat penolakan itu datang lagi. Gondok? Bisa jadi begitu. Tapi karena kata gagal sudah tidak ada lagi dalam kamus hidup saya, saya tersenyum saja dan bilang dalam hati, “Wi, ini hanya masalah waktu.” Ketiga kalinya saya coba lagi Chevening. Malah lebih parah. Saya tidak dipanggil wawancara. Hahaha. Tertawa saya waktu itu. Saya lalu coba lagi ADS. Datang sebuah pemberitahuan bahwa ada surat datang ke kantor pos yang harus saya ambil. Begitu surat sampai di tangan saya, jelas-jelas tertulis, “Anda belum beruntung.”

Karena saya sudah siap mendapatkan surat tolak, saya biasa-biasa aja. “Baru empat kali,” saya berujar. Di mailing list Beasiswa, orang-orang ada yang mencoba sampai 15 kali baru berhasil. Jadi kalau baru empat kali dapat surat tolak, ini belum ada apa-apanya.

Saya menganggap yang paling hebat adalah orang yang bisa membiayai sekolahnya sendiri. Saya belum sanggup membayar mahal untuk sekolah di luar negeri. Ini membuat saya menjadi “pengemis intelektual”. Tapi buat saya, kalau ini memang caranya saya bisa memajukan bangsa, akan saya lakukan juga. Percobaan kelima adalah beasiswa Norad ke Norwegia. Saya gagal karena Universitas Padjadjaran tempat saya belajar dulu tidak punya kerjasama dengan UIO di Norwegia. Ah sudahlah. Masih banyak jalan menuju Roma. Saya percaya itu.

Selidik punya selidik, ada beasiswa ke Swedia. Saya sudah mulai menyusun strategi karena sudah pernah 5 kali dapat surat tolak. Intinya, pasti ada yang saya belum kuasai, sehingga saya belum bisa diterima. Betul sekali, bahwa saya mendapat surat tolak keenam kalinya. Saya ingat sahabat baik saya Tomi Haryadi. Dia mendapat beasiswaStuned ke Belanda, lalu Fulbright Humphrey ke Amerika. Dia selalu bilang, “Wi, ayo. Sedikit lagi.” Saya kagum karena Tomi tidak pelit ilmu. Dia memberikan kepada saya tip-tip dan juga memberikan saya contoh-contoh Study Objective dan Personal Statement yang kira-kira bisa menarik perhatian para pemberi beasiswa. Ini yang membuat saya sadar, bahwa rezeki Tuhan tidak kemana. Tomi ingin saya, dan banyak kawan-kawannya mendapat beasiswa. Jadi tanpa pelit, dia membagi ilmunya.

Selanjutnya, saya melihat ada beasiswa Tsunami Fulbright yang khusus diberikan untuk putra-putri Aceh. Saya pikir, saya pasti tidak bisa karena saya bukan berdarah Aceh, jadi saya mau mendaftar yang regular saja. Namun ketika saya konfirmasi ke Aminef (organisasi yang bekerja erat dengan Fulbright), mereka bilang kalau kerja di Aceh maka bisa mencoba. Jadi saya pikir kenapa tidak.

Dengan gegap gempita, saya mendaftar. Belajar dari enam kali surat penolakan, kali ini saya minta supervisor saya di kantor untuk mencek Study Objective yang saya buat. Dia mementor saya. Beberapa waktu berlalu. Saya hampir lupa saya mendaftar beasiswa sampai kawan saya bilang beberapa kawannya sudah mendapat kabar dari Fulbright. Saya lantas membuka email khusus yang saya buat untuk mendaftar beasiswa. Saya melihat ada email yang bilang bahwa saya maju ke babak selanjutnya. Saya harus merevisi Study Objective dan membuat Personal Statement. Saya langsung menghubungi lagi supervisor saya. Tinggal empat hari waktunya. Tapi saya yakin, kalau rezeki, tidak akan kemana.

Singkat cerita, saya diterima. Puji Allah yang Mahaesa. Saya akan ke Amerika. Waktu berangkat masih sekitar 8 bulan lagi ketika saya harus rajin mengurus-urus administrasi.

Yang bisa saya bagi adalah bahwa beasiswa itu mudah. Yang membuat susah hanyalah pikiran kita saja yang sering kalah sebelum berperang. Yang membuat susah hanyalah rasa malas mengurus berkas dan menunda-nunda pekerjaan. Saya dulu cuti dari kantor di Banda Aceh dan bela-belain ke Bandung mengurus transkrip. Mahal sekali ongkosnya. Tapi karena saya mau, maka saya lakukan juga. Beberapa kawan beralasan jarak, tidak ada waktu, dan segala-gala rupa. Tapi semua orang punya waktu 24 jam, baik itu saya, Pak Jusuf Kalla, Presiden Obama, atau Rasul Muhammad dulu. Tinggal masalah prioritas atau tidak.

Beberapa orang malas ikut karena ribet harus riset mau sekolah dimana. Tapi jangan-jangan mereka lupa, bahwa tidak ada yang pakai proses di dunia ini. Kalau malas, bagimana mau dapat. Berikutnya, beberapa orang malas ikutan tes TOEFL atau IELTS. Alasaannya karena beberapa tes diadakan di hari Sabtu, di kala libur akhir pekan. Saya ingat sekali. Saya dan seorang kawan (yang juga keterima Fulbright) datang jam setengah 8 pagi untuk ikut tes TOEFL di hari Sabtu. Bisa kok, kalau mau.

Saya pernah membuat presentasi yang saya perdengarkan di Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry. Waktu itu yang datang tidak banyak. Entah kenapa, tapi saya curiga karena mereka menganggap beasiswa itu susah. Berikut saya kutipkan beberapa tips yang pernah saya lakukan dan berhasil:

1. Tahu jurusan apa yang kita mau
Bisa dilakukan dengan cara browsing, ngobrol dengan: yang pernah sekolah, dosen, supervisor, dst, baca banyak buku: Kiat Mendapatkan Beasiswa (bisa dibeli di milis beasiswa), dan ikut milis beasiswa, seperti beasiswa@yahoogroups.com.

2. Tahu jenis-jenis beasiswa
Pengalaman saya mengatakan bahwa ada orang-orang yang terlihat semangat mendaftar beasiswa tapi tidak tahu beasiswa yang ditawarkan itu apa saja. Banyak yang cuma tahu Chevening, ADS, Fulbright, tapi ada yang tidak tahu ada beasiswa USAID, NZAID, dan banyak lagi (ini soalnya males mencari dan nunggu disuapi). Bahkan ada beasiswa yang langsung dari universitas. Ada yang bahkan tidak tahu kapan deadline-nya. Beberapa juga suka mengerjakan semua syarat-syaratnya di waktu-waktu terakhir alias last minute. Saya yakin sekali, usaha itu akan mempengaruhi hasil. Jadi kalau tidak mau investasi waktu, yah siap-siap mendapat surat tolak.

3. Gagal itu tidak ada
Saya sudah lama tidak punya kata GAGAL dalam hidup saya. Yang ada hanyalah belum saatnya, belum rezeki, masih disuruh belajar sampai bisa. Jadi buat saya ini hanyalah persoalan keteguhan hati, dan stamina. Saya berangkat di percobaan ketujuh, ada yang sampai 10 bahkan 15 kali baru bisa. Bukan persoalan hebat, tapi persoalan proses orang yang berbeda-beda.

4. Jangan takut bersaing
ini saya suka sebel. Karena ingin bersaing, menggunakan cara-cara yang tidak sehat. Banyak orang yang pelit berbagi informaasi dan ilmu. Padahal, dapat beasiswa ini faktor usaha cerdas dan kasih sayang Tuhan. Saya rajin sekali membagi-bagi Study Objective dan Personal Statement saya untuk dijadikan contoh. Bisa kontak email kalau mau. Karena saya mau semua orang maju. Ga seru maju dan pinter sendiri.

5. Improve your English. Tingkatkan kemampuan berbahasa Inggris
Ini berlaku kalau mau sekolah ke negara dengan Inggris sebagai bahasa pengantar. Perlu diingat bahwa TOEFL dan IELTS juga cuma alat ukur. Yang paling penting adalah paham yang bisa didapat dari berlatih, berlatih, dan berlatih. Saya dulu beli buku TOEFL dan IETLS, dan saya berlatih sendiri. Bila tidak mengerti, saya tanya dengan orang-orang yang mengerti.

6. Sekolah dimana enaknya?
Kembali kepada tips pertama. Rajin-rajin ngobrol. Karena banyak universitas di luar negeri itu bagus-bagus. Tinggal memilih sekolah yang punya spealisasi, karena mereka pasti akan mengembangkan ilmu dengan riset-riset terdepan. Dan yang pasti, tinggal bagaimana kita belajar saja.

7. Selamat datang sukses
Banyak orang siap tidak berhasil, tapi tidak siap ketika sukses. Buat saya penting untuk menyiapkan diri untuk sukses. Saya baru saja menikah ketika saya mendapat beasiswa. Tapi suami saya luar biasa. Dia bilang bahwa saya harus berangkat. Saya persiapkan diri saya dan dia untuk berpisah sejenak. Saya persiapkan orang tua saya yang tidak muda lagi untuk melihat anaknya pergi jauh. Saya siapkan adik-adik saya yang akan tidak melihat kakaknya untuk jangka waktu yang relatif lama. Saya siapkan kawan-kawan saya bahwa saya bisa jadi tidak bisa ada ketika mereka butuh seperti biasanya. Untuk saya, sukses juga berarti siap untuk terus rendah hati. Karena seperti yang pernah saya bilang di atas, tidak ada hebatnya mendapat beasiswa. Semua orang bisa dapat, tergantung usahanya. Jadi yang sombong, ke laut saja.

8. Jangan lupa pulang ke tanah air. atau kalau ingin menetap di luar, berjuang terus untuk Indonesia
Ini cuman sedikit saran saja. banyak yang setelah sekolah memang memilih tidak pulang. saya tahu ini pilihan, dan saya tidak bisa intervensi pilihan orang lain. Namun, Indonesia masih sangat butuh ilmuwan-ilmuwannya kembali membangun. Pemerintah mungkin kurang apresiastif, tapi masyarakat yang miskin dan yang harus dibantu masih banyak sekali. dan saya yakin, dengan memilih terus berjuang untuk tanah air, dimanapun kita berada, akan sangat bermanfaat.

Begitulah. Saya sekarang sedang sekolah di Clinton School of Public Service di kota kecil bernama Little Rock di Arkansas. Saya belajar pelayanan publik di sekolah Presiden Clinton. Banyak orang mencibir saya kok mau sekolah di kota kecil. Tapi buat saya, yang penting adalah bahwa saya tahu saya mau memahami pelayanan publik, dan sekolah ini punya spealisasi itu. Saya juga punya etos belajar yang kuat. Mau dilempar dimana saja, saya akan bisa belajar. Sejauh ini, saya sudah bertemu banyak orang hebat karena bersekolah di sekolah ini. Setidaknya, saya bertemu Hans Blix, utusan PBB yang mencari senjata pemusnah massal di Irak, Presiden Clinton, dan Menlu AS Madeline Albright. Saya mungkin tidak masuk ke 10 besar sekolah di Amerika, tapi pengalaman hidup dari luar sekolah juga tidak bisa dinafikkan. Insya Allah, ini semua pasti bisa saya bagi ke Indonesia kelak.

Jadi siapkah Anda mendapat beasiswa? Hanya Anda yang bisa menjawab.

Little Rock, 7 Maret 2010
ketika tidak bisa tidur dan rindu keluarga

 

Minggu, 14 April 2013

Guru SMK Ini Bercita-Cita Membentuk SDM Berkualitas

Metrotvnews.com, Jakarta: Ramadhan Eka Hardi putra pertama dari Ibu Mimi ini, akrab dipanggil Adhan mampu meraih beasiswa unggulan berturut-turut mulai dari Jenjang S1 hingga S2.

Sosok anak muda yang patut dicontoh ini pernah menjuarai LKS SMK Se-Bogor dalam bidang Perhotelan pada 2007.

Dengan melalui berbagai macam tes yang diikuti sebagai persyaratan guna mendapat beasiswa unggulan, akhirnya ia mendapatkan beasiswa unggulan jenjang S1 Perhotelan dalam ilmu pariwisata. Selama kuliah ia lalui dengan tekun, disiplin yang sangat baik hingga saat kelulusan ia mendapat predikat Cumlaude.

Setelah lulus dari S1 di Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta, ia bekerja sebagai Guru di SMK-nya dulu, yaitu SMKN 3 Bogor yang telah membawa namanya hingga menjuarai perlombaan LKS SMK dalam bidang perhotelan.

Adhan berterima kasih kepada Guru Perhotelan SMKN 3 Bogor yang telah memberikan ilmu serta dukungan hingga ia mampu meraih beasiswa unggulan. Adhan memiliki cita-cita dan niat yang tulus untuk menjadi seorang Guru Teladan.

Perangai dan sikapnya yang terkadang pendiam dan pemalu, namun sangat tekun dan disiplin dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang guru. Tidak pernah ada kata lelah dengan senantiasa ia memberi motivasi pada siswa-siswanya untuk giat belajar hingga kelak menjadi orang sukses. Dengan sifat-sifat yang ia miliki itu, sosok seorang Adhan menjadi guru favorit di SMK tempat ia mengajar.

Hampir memasuki tahun ketiga berprofesi sebagai Guru SMK, ia memiliki niat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi guna menunjang profesi nya sebagai guru, karena cita-cita dan kemauan yang begitu kuat untuk menimba ilmu dalam meningkatkan mutu menjadi guru profesional di bidang pariwisata.

Seperti istilah pucuk dicinta ulam pun tiba, cita-cita dan niat nya untuk melanjutkan pendidikan ke Jenjang S2 mendapat jalan dari Yang Maha Kuasa. Adhan mendapat info bahwa ada beasiswa Kemdikbud Biro Perencanaan dan Kerja sama Luar Negeri untuk Program S2/Magister Pariwisata.

Setelah mengetahui hal itu, Adhan langsung mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk melamar beasiswa S2 tersebut. Alhamdulillah dengan niat, cita-cita, ketekunan dan kedisiplinan serta doa orang tua yang senantiasa mengiringi langkahnya, Adhan pun mendapatkan beasiswa unggulan kembali untuk program S2/Magister di Kampus Pascasarjana STP Trisakti yang sedang dijalani saat ini.

Selain aktivitas rutinnya sebagai guru dan juga sebagai mahasiswa beasiswa unggulan Magister Pariwisata, Adhan pun gemar terhadap dunia IT Linux Open Source. Ia aktif dan pernah menjabat Vice President dalam Komunitas Pengguna Linux Indonesia. Disela-sela kegiatannya Adhan mengungkapkan pendapat tentang Pendidikan Pariwisata.

Dia mengharapkan melalui pendidikan dapat terbentuk manusia yang berkualitas yang diperlukan untuk mendukung pembangunan ekonomi, sosial budaya, juga berbagai bidang lainnya seperti sektor pariwisata yang menjadi sektor terpenting penyumbang devisa negara terbesar setelah minyak dan gas.

Pendidikan Pariwisata merupakan modal utama untuk membangun SDM Pariwisata yang kompetitif dan berdaya saing global guna meningkatkan Pariwisata Indonesia di mata dunia.

"Dengan kata lain Pendidikan Pariwisata juga sebagai salah satu gerbang penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendidikan membuka peluang individu maupun masyarakat untuk mengembangkan diri dan mewujudkan cita-citanya,” ujar Adhan. (Syarief Oebaidillah)

sumber : http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/04/14/3/146524/Guru-SMK-Ini-Bercita-Cita-Membentuk-SDM-Berkualitas